Minggu, 20 November 2011

pelayanan kes. w@nit@


SEKILAS 

TENTANG WANITA

• Mayoritas perempuan muda di sebagian besar wilayah dunia, mulai aktif secara seksual pada umur belasan tahun. Proporsi kasarnya, di negara-negara Amerika Latin dan Karibia sekitar sentengah sampai dua pertiga, di negara-negara maju mencapai tiga perempat atau bahkan lebih, dan di berbagai negara Afrika Sub-Sahara lebih dari 9 dalam 10.
• Pada sebagian masyarakat, perempuan melakukan hubungan seks pada masa remaja karena mereka diharapkan menikah dan melahirkan anak pada usia muda. Pada masyarakat lainya, pernikahan biasanya dilangsungkan pada usia sedikit lebih tua, tetapi seks pra-nikah sudah biasa. Sebagian masyarakat dapat dipastikan sedang berada dalam masa transisi dari norma sosial yang satu ke yang lain.
• Terlepas dari norma yang mempengaruhi para perempuan muda usia, hubungan seksual yang dimulai pada usia belasan tahun mengandung risiko-risiko tertentu. Contohnya, para perempuan yang menikah pada usia muda sering tidak bisa banyak berbicara dalam pengambilan keputusan mengenai kesuburan dan kesempatan yang terbatas untuk mengenyam pendidikan atau ketrampilan kerja. Para permpuan yang hamil di luar nikah mungkin harus memutuskan apakah akan menggugurkan kandungannya atau tetap mengasuh anaknya di luar perkawinan. Perempuan, baik yang menikah maupun tidak, sangat rentan terhadap penyakit menular seksual serta perempuan yang sering melahirkan atau melahirkan pada usia muda berisiko melemah kesehatannya.
Para remaja dewasa ini, generasi terbesar dalam usia 10-19 tahun di dalam sejarah, beranjak dewasa di dunia yang sangat berbeda daripada dunia di waktu para orang tua mereka beranjak dewasa. Meskipun laju perubahan berbeda di antara dan di dalam wilayah dunia, masyarakat berada di dalam keadaan kesempatan baru yang membingungkan bagi para pemuda.
Perbaikan di bidang transportasi dan komunikasi membuka kesempatan bagi para pemuda, bahkan yang tinggal di daerah-daerah terpencil mengenal orang-orang dengan tradisi dan nilai-nilai kehidupan yang berbeda, walaupun dunia semakin urban dan industrialisasi menawarkan godaan kemajuan dan kesempatan. Tetapi, tanpa pendidikan dan latihan yang memadai, para remaja tidak akan mampu memenuhi tuntutan lingkungan pekerjaan moderen, dan tanpa bimbingan orang tua, masyarakat serta para pemimpin pemerintahan, para remaja mungkin tidak siap untuk menilai hasil dari keputusan yang diambil mereka.
Kendati demikian, di dunia berkembang, dimana kemiskinan luas dan berkepanjangan, sejumlah keluarga mungkin terpaksa menggagalkan pendidikan anak-anak kalau tenaga mereka dibutuhkan untuk membantu rumah tangga. Di sebagian besar negara, 70-100% anak-anak mendaftar di sekolah dasar, tetapi lamanya waktu yang digunakan untuk belajar di sekolah berbeda sekali. Umpamanya, sementara 80% perempuan muda di beberapa negara berkembang memperoleh pendidikan dasar, sekurangnya tujuh tahun masa belajar, tetapi di banyak daerah Afrika Sub-Sahara hanya 25% atau kurang dari itu yang memperoleh pendidikan serupa.
Pemerintah-pemerintah bertujuan untuk menyediakan pendidikan dasar yang dapat diperoleh secara luas. Oleh sebab itu, perempuan muda di hampir semua negara boleh dikatakan lebih mungkin memperoleh pendidikan dasar daripada yang dulu didapatkan oleh ibu mereka, dan di dunia berkembang perbedaanya bisa sangat besar. Misalnya, di Sudan, 46% remaja berumur 15-19 tahun sudah menempuh tujuh tahun atau lebih masa sekolah, dibandingkan dengan 5% dari para wanita berumur 40-44 tahun. Begitupun, disparitas, terutama di segi sosio-ekonomi dan di lingkungan kehidupan, masih bertahan. Di sebagian negara berkembang, kemungkinan perempuan muda kota untuk memperoleh pendidikan dasar adalah 2-3 kali lipat dibanding dengan perempuan-perempuan yang berada di pedalaman.

Pengumpulan Data

Jika para pembuat kebijakan dan perencana program akan membuat keputusan atas dasar informasi mengenai kebutuhan-kebutuhan pendidikan, ekonomi dan kesehatan penduduknya, mereka harus mengantisipasi jumlah orang yang pada tahun-tahun mendatang akan berbagi-guna sumber-sumber negara dan apakah wilayah atau kelompok demografi tertentu kemungkinan akan meluas atau menyempit. Untuk itu mereka harus mengukur pola perilaku, dan karenanya sebagian besar negara-negara menggunakan sensus atau survai contoh berskala besar untuk mengumpulkan informasi mengenai perilaku kesehatan reproduksi, kesuburan perempuan, dan sebagian kecil lelaki dalam populasinya.
Pengumpulan data seperti itu merupakan dasar bagi laporan Institut Alan Guttmatcher "Into A New World: Young Women's Sexual and Reproductive Lives" darimana ringkasan ini dipersiapkan. Laporan ini mengkonsolidasi data dari 53 negara, 47 negara berkembang dan 6 negara maju yang mewakili 75% populasi dunia.
Bagi 46 dari negara tersebut sumber data utama berasal dari survai Demografi dan Kesehatan, satu program dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (U.S. Agency for International Development), yang membantu negara-negara berkembang mengumpulkan data yang mereka perlukan. Di negara-negara selebihnya Cina dan 6 negara industri dapat diperoleh survai pemerintah yang berisikan data banding.
Sementara sejumlah rintangan masa remaja sifatnya sama bagi semua remaja, masa-masa remaja lebih sulit bagi kaum wanita. Meskipun sebagian usia 10-19 baru mulai mengalami perubahan-perubahan yang datang bersama masa pubertas, banyak mulai mengalami hubungan seksual atau perkawanan. Dan setiap tahun, kira-kira 14 juta perempuan muda berumur 15-19 melahirkan. Melahirkan anak pada usia remaja di dunia berkembang adalah soal biasa, di mana proporsi yang telah melahirkan anak pertama sebelum umur 18 biasanya antara seperempat dan setengah (Grafik 1). Sebaliknya, di dunia maju, dan di sebagian kecil negara berkembang, kurang dari satu dalam 10 melahirkan anak pertama pada usia remaja.
Grafik 1: Proporsi wanita yang melahirkan anak pertama mereka sebelum usia 18 tahun berkisar dari 1% di Jepang sampai 53% di Niger.
Bagi seorang wanita, pernikahan awal dan, terutama, melahirkan anak, mempunyai pengaruh yang dalam dan berkepanjangan terhadap kesejahteraan, pendidikan dan kemampuan memberikan sumbangsih terhadap masyarakatnya. Begitupun, faktor-faktor kompleks, baik yang berupa fisik, maupun kekeluargaan dan kebudayaan yang sering kurang dipahami, menentukan siapa dan kapan seseorang akan menikah; siapa akan memulai aktivitas seksual pra-nikah, siapa akan mulai melahirkan pada masa remaja; dan siapa akan melahirkan di luar nikah. Data yang ada menunjukkan bahwa sementara kebutuhan dan pengalaman remaja berbeda di seluruh dunia namun ada persamaan yang terdapat di berbagai lintas nasional dan regional.

Waktu seks dan perwakinan berbeda

Perkawinan menandai sebuah transisi penting di dalam kehidupan individu, dan jadwal peristiwa itu dapat mendatangkan dampak yang dramatis terhadap masa depan seorang pemuda. Sementara di sebagian masyarakat pengalaman pertama seksual seorang perempuan kemungkinan dengan suaminya, di masyarakat-masyarakat lainnya permulaan aktivitas seksual tidak begitu erat hubungannya dengan perkawinan. Kebiasaan yang berbeda mengenai hubungan dan perilaku seksual, dan cara sebuah masyarakat mengadaptasi perubahan kebiasaan tersebut, dapat menimbulkan dampak yang dalam pada seorang pemuda, keluarganya dan masyarakatnya secara menyeluruh.
Paling sedikit setengah perempuan muda di negara Afrika Sub-Sahara, mulai hidup bersama pertama kali sebelum usia 18 tahun. Ini mereka lakukan lewat perkawinan formal secara agama atau hukum, atau dengan persetujuan bersama yang mungkin atau tidak akan menjurus pada perkawinan. Tetapi, di beberapa negara di daerah itu, hal yang demikian hanya dilakukan oleh satu dari tujuh. Di Amerika Latin dan di Karibia, 20-40% dari wanita muda memasuki hidup bersama, dan di Afrika Utara dan Timur Tengah, proporsinya 30% atau kurang. Di Asia, kemungkinan perkawinan awal berbeda sekali, 73% perempuan di Bangladesh memasuki kehidupan bersama sebelum usia 18, dibandingkan dengan 14% di Filipina dan Sri Langka, dan hanya 5% di Cina. Para wanita di negara maju tidak mungkin kawin sebelum usia 18; walaupun di Perancis, Inggris dan Amerika Serikat sebanyak 10-11% melakukannya, tetapi di Jerman dan di Polandia hanya 3-4% wanita semuda ini melakukannya.
Perkawinan awal kurang biasa sekarang dibandingkan dengan satu generasi yang lalu, walaupun perbedaan yang luas terdapat di antara dan di dalam daerah-daerah. Misalnya, di Afrika Sub-Sahara proporsi wanita yang telah kawin sebelum umur 18 hampir tidak berubah, di Ghana (39% dari usia 40-44 tahun dibanding 38% usia 20-24 tahun) dan di Pantai Gading (49% dibanding 44%), tetapi di Kenya telah menurun dengan tajam (47% dibanding 28%) sebaliknya, penurunan hebat terjadi di seluruh Asia sedangkan
di Amerika Latin dan Karibia tingkat perkawinan awal boleh dikatakan tetap stabil.
Di seluruh dunia waktu terjadinya hubungan pertama erat kaitannya dengan hasil pendidikan kaum wanita. Di sebagian besar Afrika Sub-sahara, Amerika Latin dan Karibia angka perkawinan awal, di kalangan wanita yang mempunyai pengetahuan/ pendidikan di bawah pendidikan dasar secara kasar adalah tiga kali lipat daripada para wanita yang sekurangnya bersekolah selama 7 tahun (Tabel 1). Perbedaan besar menurut hasil pendidikan juga terdapat di negara-negara maju meskipun angka perkawinan awal relatif lebih rendah.
Tabel 1: Memasuki hubungan seksual dan mulai melahirkan dalam usia remaja umum di kalangan wanita di negara-negara berkembang.
Negara dan Tahun Survai % Wanita usia 20-24 menikah atau hidup bersama sebelum usia 18 % Wanita 20-24 yang melahirkan sebelum usia 20 % Wanita 40-44 yang melahirkan sebelum usia 20 % Wanita 15-19 sudah menikah yang tidak mau segera beranak % Wanita 15-19 yang membutuhkan proteksi kontrasepsi
dan kurang dari 7 tahun bersekolah 1 dan 7 tahun atau lebih bersekolah1
Afrika Sub-Sahara
Botswana, 1988 15 8 55 50 62 29
Burkina Faso, 1992-1993 65 25 62 58 66 16
Burundi, 1987 18 9 27 39 75 3
Ghana, 1993 51 26 49 50 83 32
Kamerun, 1991 79 26 67 64 64 32
Kenya, 1993 52 18 52 59 66 22
Liberia, 1986 57 30 64 59 63 36
Madagaskar, 1992 45 14 53 60 59 27
Malawi, 1992 63 25 63 56 73 u
Mali, 1987 80 61 67 62 68 28
Namibia, 1992 21 5 42 38 28 19
Niger, 1992 87 12 75 63 57 21
Nigeria, 1990 69 14 54 49 62 22
Pantai Gading, 1994 48 21 63 57 62 35
Republik Afrika Tengah, 1994-1995 60 42 61 59 59 23
Rwanda, 1992 21 4 25 36 74 6
Senegal, 1992-1993 54 6 52 54 64 13
Tanzania, 1991-1992 58 28 57 65 64 24
Togo, 1988 50 16 56 59 74 33
Uganda, 1995 62 31 66 65 67 22
Zambia, 1992 60 31 61 68 68 30
Zimbabwe, 1994 69 24 47 54 70 8
Afrika Utara & Timur Tengah
Maroko, 1992 23 4 19 39 56 2
Masir, 1992 49 6 29 40 64 4
Sudan, 1989-1990 41 9 26 61 59 4
Tunisia, 1988 12 4 13 36 70 2
Yaman, 1991-1992 54 17 41 35 14 2
Asia
Bangladesh, 1993-1994 82 40 66 85 71 18
Cina, 1992 8 2 14 22 73 u
Filipina, 1993 30 10 21 26 81 4
India, 1992-1993 66 21 49 58 65 15
Indonesia, 1994 49 10 33 51 70 3
Pakistan, 1990-1991 38 7 31 38 57 8
Sri Langka, 1987 u u 16 31 76 3
Thailand, 1987 25 8 24 28 76 4
Turki, 1993 30 6 25 42 71 4
Amerika Latin & Karibia
Bolivia, 1993-1994 34 18 38 38 91 12
Brazil, 1996 34 14 32 29 88 12
Ecuador, 1987 42 15 35 39 80 8
El Salvador, 1985 48 16 u u 82 10
Guatemala, 1987 48 10 50 48 79 12
Kolombia, 1995 42 15 36 34 83 11
Mexico, 1987 46 13 35 41 63 5
Paraguay, 1990 33 13 37 34 74 11
Peru, 1991-1992 43 9 27 36 90 10
Republik Dominika, 1991 64 18 33 52 66 12
Trinidad & Tobago, 1987 42 33 30 40 87 11
Negara-negara maju
Amerika Serikat, 1995 41 6 22 24 70 12
Inggris, 1991 27 6 15 16 u u
Jepang, 1992 6 0 3 2 77 6 u
Jerman, 1992 3 3 6 13 5 87 4 u
Perancis, 1994 29 7 6 13 18 4 u
Polandia, 1991 12 3 14 11 u u
1. Angka-angka berdasarkan pendidikan selama 10 tahun atau lebih bagi negara-negara maju kecuali Inggris (11 atau lebih) dan Amerika Serikat (12 atau lebih). 2. Di Afrika Utara, Timur Tengah dan Asia para wanita yang belum pernah nikah dianggap tidak pernah melahirkan. 3. "Memerlukan" mengacu pada para wanita aktif seksual yang tidak mau beranak segera dan tidak menggunakan metoda moderen: pel, diafrakma, kondom, ADR, spermicide, sterilisasi, injeksi dan implan. Informasi pilihan tentang kesuburan hanya diperoleh bagi para wanita sudah menikah; para wanita belum nikah. Wanita belum nikah dianggap tidak mau segera punya anak. Para wanita yang hamil pada waktu survai dilangsungkan tetapi yang tidak mau diikut sertakan dianggap menjadi yang memerlukan. 4. Mengacu pada usia 20-24. 5. Mengacu pada usia 35-39. 6. Mengacu pada usia 18-19; nilai didasarkan atas 22 wanita. u=tidak diperoleh.
Peradaban di seluruh dunia mempunyai sikap yang berbeda terhadap aktivitas seksual di kalangan orang-orang yang belum nikah. Di Afrika utara, Timur Tengah dan bagian terbesar negara Asia, perempuan muda diharuskan tidak melakukan hubungan seks sampai mereka menikah, dan bukti-bukti yang ada menunjukkan sebagian besar mengikuti norma tersebut. Namun, di sebagian besar Afrika Sub-Sahara wanita remaja yang belum menikah biasa melakukan hubungan seks, yang sering menjurus pada perkawinan formal; di Amerika Serikat dan di sejumlah negara Eropa, hubungan seks di kalangan remaja merupakan soal biasa, tetapi mungkin tidak menjurus pada perkawinan. Banyak di antara masyarakat-masyarakat tersebut membatasi atau mengutuk perilaku seksual bagi para wanita yang belum kawin, tetapi mentolerir bahkan mendorong perbuatan tersebut bagi lelaki yang belum kawin. Sebagai akibatnya lelaki lebih mungkin mengambil prakarsa aktivitas seksual ketimbang wanita di luar perkawinan dan mereka melakukannya pada usia yang lebih muda.
Menunda perkawinan sampai masa remaja berfaedah bagi para wanita, tetapi juga membuat mereka rentan terhadap risiko tertentu. Seorang wanita yang menunda perkawinan mungkin dapat melanjutkan pendidikannya, mungkin bisa memegang peran yang lebih besar dalam memutuskan kapan dan dengan siapa dia akan kawin, dan mungkin akan mempunyai lebih banyak pengaruh terhadap apa yang terjadi dalam perkawinan dan keluarganya. Begitupun, besar kemungkinan dia akan terlibat dalam prilaku seksual pra-nikah, yang mengandung risiko tidak diinginkan dan terkena infeksi penyakit menular seksual (PMS). Dihadapkan pada kehamilan yang tidak diinginkan, seorang wanita yang tetap tidak menikah, harus memutuskan apakah dia akan memelihara anak di luar nikah tersebut atau melakukan pengguguran; di negara di mana pengguguran dilarang atau sulit diperoleh, banyak wanita akan melakukan pengguguran gelap. Para wanita yang aktif seksual baik yang nikah ataupun yang tidak bisa terkena (PMS), namun risikonya lebih besar bagi mereka yang tidak kawin karena mereka mempunyai banyak partner.

Melahirkan anak sering dimulai pada usia muda

Di sebagian masyarakat kaum wanita dianjurkan untuk memulai keluarga pada usia muda. Proporsi wanita yang melahirkan anak mereka yang pertama sebelum usia 18 tahun sangat besar hampir di seluruh Afrika Sub-Sahara (misalnya sekitar seperlima di Namibia dan setengah di Niger); kurang dari seperlimanya di bagian terbesar Asia (kecuali di India dan Bangladesh di mana proporsinya masing-masing 30% dan 50%). Di Amerika Latin dan Karibia 12-28% wanita, pertama kali melahirkan pada usia 15-17 tahun; di Afrika Utara dan di Timur Tengah 3-27% wanita melahirkan seawal ini.
Sekitar setengah dari jumlah para wanita yang mempunyai pendidikan dasar kemungkinan mulai berkeluarga sebelum usia 18 tahun dibandingkan dengan wanita yang kurang pendidikan. Jumlah perempuan muda umur belasan tahun yang melahirkan lebih rendah di Afrika dan Timur Tengah, namun perbandingan berdasarkan tingkat pendidikan adalah lebih besar. Di negara-negara maju, pendidikan juga dikaitkan dengan perbedaan di antara para remaja yang melahirkan; di Amerika Serikat perempuan muda belasan tahun yang kurang dari 12 tahun bersekolah kemungkinan melahirkan sebelum usia 18 tahun, adalah enam kali lipat lebih besar daripada mereka yang lebih banyak waktunya digunakan untuk bersekolah.
Walaupun sebagian besar remaja yang mempunyai anak sudah menikah, namun proporsi yang belum kawin juga besar. Di sebagian besar Afrika Sub-Sahara, sepertiga kelahiran terjadi pada wanita remaja yang belum menikah usia 15-19 tahun; di Burkina Faso, Mali, Niger dan Nigeria proporsinya sangat rendah (4-6%), tetapi melampaui tiga perempat di Botswana dan Namibia. Khususnya di Amerika Latin dan Karibia 12-25% remaja yang melahirkan belum nikah. Di negara-negara maju; kecenderungan melahirkan anak tanpa nikah semakin besar; di Perancis, Jerman dan Inggris dan Amerika Serikat lebih dari setengah yang melahirkan tidak menikah.
Data survai menunjukkan bahwa proporsi ibu remaja yang belum ada rencana untuk beranak, berbeda di dalam dan di antara wilayah. Di Amerika Latin dan Karibia antara seperempat dan setengah para ibu muda mengatakan mereka melahirkan tanpa direncanakan; di Afrika Utara dan di Timur Tengah proporsinya dari 15 sampai 30%. Sekitar 10-16% kelahiran pada perempuan usia muda yang terdapat di India, Indonesia dan Pakistan tidak direncanakan dibandingkan dengan 20-24% di Asia selebihnya. Variasinya bahkan lebih besar di Afrika Sub-Sahara - dari 11-13% di Niger dan Nigeria sampai 50% atau lebih di Botswana, Ghana, Kenya, Namibia dan Zimbabwe. Sebagian yang cukup besar dari remaja yang melahirkan di negara-negara maju juga tidak direncanakan - misalnya, 66% di Amerika Serikat.
Oleh karena kemudahan untuk memperoleh pendidikan semakin meningkat dan manfaat menunda kelahiran anak semakin luas dipahami, di sejumlah negara beranak pada usia muda, yang dulunya merupakan satu soal biasa, sekarang semakin menurun. (Tabel 1). Di beberapa bagian Asia para wanita usia 20-24 dan wanita usia 40-44 tahun, kira-kira sama-sama punya kemungkinan 80% telah melahirkan anak pertama pada usia remaja; di bagian lainnya di wilayah itu kemungkinan hal seperti ini terjadi hanya setengah atau dua pertiga. Di Afrika dan Timur Tengah melahirkan anak di waktu remaja telah menurun kira-kira seperempat sampai setengahnya.
Sebaliknya, penurunan yang lebih kecil terjadi di Afrika Sub-Sahara dan di beberapa negara, perempuan remaja lebih punya kemungkinan melahirkan anak daripada perempuan remaja satu genarasi sebelumnya. Di Amerika Latin dan Karibia tingkat perubahan perempuan melahirkan anak pada waktu usia muda, berbeda-beda. Misalnya, penurunan sebesar 37% terdapat di Republik Dominika, tidak terdapat perubahan di Bolivia, sedangkan di Brazil ada sedikit kenaikan.
Menunda waktu beranak menguntungkan para wanita muda karena dengan demikian mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk menempuh pendidikan serta mengembangkan ketrampilan untuk mempertinggi kemampuan mereka dalam mengurus keluarga dan bersaing di pasar kerja. Hal ini juga dapat menimbulkan dampak dramatis terhadap laju pertumbuhan penduduk, di negeri itu dan di dunia. Di banyak negara berkembang seorang wanita yang telah melahirkan anak pertama sebelum usia 18 tahun, secara rata-rata akan mempunyai tujuh anak. Menunda kelahiran anak pertama sampai menjelang usia awal 20-an mengurangi angka melahirkan rata-rata baginya, hingga kira-kira lima.

Keluarga berencana di kalangan remaja umumnya rendah

Sebagian perempuan muda ingin segera punya anak namun kebanyakan mereka tidak mau segera punya anak; bahkan di kalangan mereka yang sudah menikah pun di sebagian besar negara-negara paling sedikit dua pertiga yang ingin menangguhkan kelahiran atau menunda kelahiran kedua (Tabel 1). Namun di samping nafsu kesuburan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi apakah dia akan menggunakan keluarga berencana atau KB: status perkawinannya, harapan keluarga serta norma-norma masyarakat, dan kemudahan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan serta obat pencegah kehamilan.
Oleh sebab itu dihampir semua negara-negara Afrika Sub-Sahara, tidak lebih dari 20% wanita muda yang sudah menikah, menggunakan metoda keluarga berencana, meskipun 60% atau lebih mengutarakan bahwa mereka tidak ingin segera punya anak. Di Afrika Utara dan Timur Tengah tingkat penggunaanya juga sama rendahnya, namun di Asia agak berbeda. Di India dan Pakistan kurang dari 5% remaja yang menikah menggunakan kontrasepsi, dibandingkan dengan 40% di Indonesia dan di Thailand. Dengan sedikit pengecualian, di negara-negara Amerika Latin dan Karibia di mana tingkat penggunaanya berkisar dari 30 sampai 53%.
Di Afrika Sub-Sahara para wanita remaja belum nikah yang aktif seks, lebih banyak kemungkinan menggunakan kontrasepsi ketimbang para wanita remaja seumurnya yang sudah menikah. Hal yang sama juga dilakukan oleh rekan-rekan mereka, para wanita remaja di Amerika Latin dan Amerika Serikat. Dari kira-kira 260 juta wanita di seluruh dunia, usia 15-19 tahun, yang belum dan yang sudah menikah, kira-kira 11% (29 juta) yang aktif seks tetapi tidak mau hamil, dan tidak menggunakan metoda moderen pencegah kehamilan (pel, suntikan, ADR (alat dalam rahim), implan, sterilisasi, diafrakma, kondom). Di Afrika Sub-Sahara proporsi yang memerlukan kontrasepsi atau proteksi yang lebih baik besar sekali (misalnya hampir sepertiga perempuan muda di Pantai Gading dan di Ghana) Di Bangladesh dan di India juga cukup tinggi (kurang sedikit dari 1 dalam 5). Di sebagian besar negara Amerika Latin dan Karibia kira-kira 1 dalam 10 kaum wanita terancam kehamilan yang tidak diinginkan karena mereka tidak menggunakan metoda moderen atau kontrasepsi tradisional.
Para remaja yang menggunakan kontrasepsi dihadapkan dengan banyak rintangan sewaktu mereka mencari satu metoda moderen. Tingkat pengetahuan metoda moderen, misalnya berbeda-beda di antara wanita remaja di negara berkembang dan khususnya rendah di Afrika Sub-Sahara - kurang dari setengahnya di Burkina Faso, Burundi, Madagaskar, Mali, Niger, Nigeria dan Tanzania. Pengetahuan tentang kondom sangat rendah - tidak lebih sepertiga perempuan muda di banyak negara yang mengetahui metoda ini.
Golongan remaja yang mengetahui tentang metoda keluarga berencana, mungkin tidak tahu di mana memperolehnya. Hal ini merupakan rintangan yang lebih besar di daerah pedalaman daripada di daerah perkotaan. Sebagai tambahan di sejumlah negara di mana aktivitas seksual di kalangan remaja yang belum nikah umumnya dianggap sebagai sesuatu yang salah, kemudahan pelayanan kontrasepsi bagi wanita muda dibatasi hukum.
Sekalipun para wanita muda yang sudah mengenal metoda moderen dan bisa memperolehnya, tetapi mereka mungkin tidak tahu bagaimana cara menggunakannya dengan tepat. Sebagian karena sering kurangnya pengetahuan dan ketrampilan kalangan wanita muda itu tentang cara menggunakan kontrasepsi, sehingga mereka lebih mungkin hamil dalam tahun pertama setelah menggunakan metoda itu dibandingkan dengan para wanita yang lebih tua.
Kendatipun tingkat penggunaan kontrasepsi itu sering rendah, kalangan remaja dewasa ini lebih mungkin menggunakan satu metoda moderen daripada para remaja tahun 1970-an. Di beberapa negara Asia: di kalangan para remaja yang sudah menikah kenaikan penggunaannya lebih tinggi. Pemakaianya naik dua kali atau tiga kali lipat di Indonesia, Filipina dan Thailand sedangkan terjadi kenaikan sepuluh kali lipat di Bangladesh (Tabel 2).
Tabel 2: Penggunaan kontrasepsi meningkat di kalangan para wanita remaja yang sudah menikah.
Negara % Wanita sudah usia 15-19 yang
1970han 1990han
Amerika Serikat‡ 59 65
Bangladesh 2 20
Bolivia 2* 10
Brazil 46* 46
Filipina 5 10
Ghana 2* 7
Indonesia 11 32
Kenya 1 5
Kolombia 21 34
Mesir 6* 13
Mexico 11 24
Thailand 15 40
Zimbabwe 28* 30
*Pertengahan atau akhir 1980han. †1987. ‡Persentase ini adalah untuk semua wanita aktif seksual usia 15-19. Periode paling awal tahun 1982.
Medoda kontrasepsi modern adalah pilihan kebanyakan remaja yang sudah menikah yang melakukan keluarga berencana di Afrika Utara, Timur Tengah dan Asia. Metoda-metoda tradisional - kebanyakan berhenti secara periodik - paling umum di Afrika Sub-Sahara dan digunakan oleh minoritas besar para remaja menikah di Amerika Latin dan Karibia.
Tidak ada negara berkembang di mana wanita remaja yang menikah menggunakan kondom lebih dari 8%, satu-satunya metoda kontrasepsi yang juga efektif untuk menghalangi penyebaran HIV dan PMS lainya. Di beberapa daerah penyuluhan tentang peranan kondom dalam mencegah penyakit mulai diperhatikan. Di beberapa negara Amerika Latin dan Amerika Serikat, para remaja belum menikah yang aktif seksual kemungkinannya menggunakan kondom adalah dua kali lipat dari para remaja yang sudah menikah.

Aktivitas seksual menimbulkan berbagai risiko kesehatan

Melahirkan - terutama kelahiran bayi pertama - mengandung risiko kesehatan bagi semua wanita. Bagi seorang wanita yang kurang dari usia 17 tahun, yang belum mencapai kematangan fisik, risikonya semakin tinggi. Remaja usia muda, terutama mereka yang belum berusia 15 tahun lebih besar kemungkinanya mengalami kelahiran secara prematur (premature labor), keguguran dan kematian bayi atau jabang bayi dalam kandungan, dan kemungkinannya meninggal akibat kehamilan, empat kali lipat daripada wanita yang lebih tua berusia 20 tahun keatas. Lagipula, bayi mereka lebih besar kemungkinanya lahir dengan berat yang kurang normal dan meninggal sebelum usia satu tahun daripada bayi-bayi yang dilahirkan oleh para wanita dewasa.
Di seluruh dunia sejumlah remaja yang hamil tidak mendapat perawatan pra-natal: di Bangladesh, Bolivia, dan Mesir proporsinya lebih dari setengah. Bahkan di kalangan populasi yang kayapun banyak remaja tidak mendapat perawatan atau mengusahakan perawatan ketika mereka sudah hamil tua.
Ancaman lain terhadap kesehatan reproduksi wanita muda, ialah ketika mengambil keputusan untuk mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan di lingkungan di mana pengguguran tidak dibenarkan oleh hukum atau sukar diperoleh. Dalam situasi seperti ini para remaja mungkin akan mencari orang yang dapat melaksanakan pengguguran gelap; sering orang-orang yang melaksanakan pengguguran ini tidak ahli dan bekerja di bawah kondisi yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
Di beberapa negara Afrika Sub-Sahara sekitar sepertiga dan seperempat remaja menderita akibat komplikasi yang berhubungan dengan pengguguran; di Kenya dan Nigeria jumlah yang menderita komplikasi parah akibat pengguguran lebih dari setengahnya. Bahkan di daerah dimana pengguguran diizinkan para wanita muda mungkin akan menghadapi risiko komplikasi jika mereka menunda-nunda pelaksanaanya karena sebagian dari mereka tidak mengetahui atau menyangkal tanda-tanda kehamilan awal, atau mereka tidak punya dana untuk pembayaran pengguguran.
Infeksi pada sistem reproduksi juga berpengaruh besar terhadap kesehatan dan kesuburan seorang wanita. Infeksi-infeksi seperti itu terjadi ketika para wanita melahirkan atau melakukan pengguguran di bawah kondisi yang tidak steril, dan ada juga ketularan akibat hubungan seks dengan partner yang menderita infeksi. Setiap tahun cukup besar proporsi wanita dan pria usia 15-49 ketularan PMS - di negara-negara maju dan beberapa negara berkembang kurang dari 10%, tetapi di bagian terbesar negara berkembang berkisar dari 11 sampai 25%. Para wanita muda khususnya mudah terkena PMS karena mereka kurang memiliki perlindungan antibodi daripada para wanita yang lebih tua, dan ketidak matangan leher rahim mereka mempertinggi kemungkinan terkena bakteri infeksi yang mengakibatkan penularan penyakit tersebut.
Dalam masyarakat-masyarakat di mana wanita tidak berhak untuk membuat keputusan mengenai kehidupan mereka, seorang remaja yang takut terkena infeksi dari partnernya mungkin tidak dapat menolak keinginan partnernya untuk melakukan hubungan seks atau bersikeras agar partnernya menggunakan kondom. Sementara para wanita yang tidak menikah mengandung risiko yang lebih besar terkena PMS, bahkan wanita-wanita yang sudah menikah mungkin terancam risiko, jika suami-suami mereka mempunyai banyak hubungan seksual sebelum kawin atau terus melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu partner.
Gejala awal bagi wanita yang terkena PMS sering tidak diketahui; akibatnya para wanita mungkin tidak menyadari bahwa mereka terkena infeksi jadi tidak berusaha untuk berobat. PMS yang tidak diobati bisa menimbulkan akibat berat terhadap kesehatan termasuk merusak kesuburan, sakit tulang pinggul kronis, kanker mulut rahim, dan berakibat buruk terhadap anak-anak yang dilahirkan oleh wanita yang terkena infeksi sewaktu hamil.
Lagi pula, setengah dari mereka yang menderita infeksi HIV adalah mereka yang berusia kurang dari 25 tahun. Di beberapa negara Sub-Sahara banyak remaja yang hamil menderita HIV positif - misalnya, 20-27% di beberapa daerah Botswana, Nigeria dan Rwanda.
Kebiasan-kebiasan kebudayaan tertentu ada hubunganya dengan risiko reproduksi kesehatan di kalangan para remaja. Di sejumlah masyarakat, banyak gadis yang di-mutilasi. Komplikasi bisa terjadi akibat pemotongan itu sendiri, dan akibat seumur hidup termasuk sakit kronis sewaktu melakukan hubungan seks, kambuhnya infeksi tulang pinggul, dan sulit ketika melahirkan. Di banyak negara Asia, Amerika Latin dan Karibia para pemuda umumnya mendapat pengalaman seks pertama dengan pelacur.
Akhirnya, para pemuda di seluruh dunia mengalami penyalahgunaan seksual, hubungan seks antar keluarga (incest) dan perkosaan. Di banyak daerah orang-orang muda - terutama mereka yang miskin atau tunawisma dan yang tidak punya ketrampilan untuk bersaing memperoleh pekerjaan yang memerlukan kecakapan - menjadi korban eksploitasi seksual guna memperoleh keuntungan komersial.

Wanita muda memerlukan uluran tangan

Para remaja dewasa ini adalah para pemimpin, para pekerja dan para orang tua di masa mendatang. Untuk mengisi peranan ini sebaik-baiknya, mereka memerlukan bimbingan dan dukungan dari keluarga dan masyarakat termasuk perhatian pemerintah yang merasa berkewajiban terhadap perkembangan mereka. Sementara modernisasi ekonomi, urbanisasi dan komunikasi massa merubah prospek dan perilaku para remaja, penyesuaian terhadap cara-cara baru ini kemungkinan kurang menyenangkan dan terkadang sulit. Namun penyesuaian tidak dapat dielakkan.
Sebagian besar negara mengakui pentingnya nilai pendidikan bagi para wanita muda. Wanita-wanita muda bahkan yang hanya memiliki pendidikan dasar sajapun, menunda perkawinan dan melahirkan anak dengan waktu kira-kira satu setengah tahun dibandingkan dengan mereka yang tidak bersekolah; mereka yang memiliki pendidikan menengah pertama menundanya lebih lama lagi. Pendidikan juga memperbaiki kesehatan anak dan keluarga si wanita, dan mempermudahnya untuk mempergunakan jasa-jasa dan informasi. Oleh sebab itu pemerintah-pemerintah dan lembaga-lembaga sosial lainnya harus menjajaki cara baru yang memungkinkan para keluarga untuk menyekolahkan anak-anak perempuan dan mendorong para wanita muda untuk tetap bersekolah dan menyelesaikan pendidikan dasar mereka.
Tidak banyak negara maju dan negara berkembang yang memberikan perhatian yang memadai bagi keperluan kesehatan reproduksi khusus bagi para wanita remaja - dalam banyak hal karena kurangnya sumber, dan dalam hal lainya karena khawatir akan menimbulkan kontroversi. Besarnya keperluan kesehatan reproduksi bersifat perorangan dan tergantung pada usia dan keadaan seorang wanita (Tabel 3). Karena pola perilaku seksual dan perkawinan berbeda di antara wilayah-wilayah dunia (Tabel 4) atau di antara kelompok-kelompok kebudayaan, maka proporsi wanita muda dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu juga berbeda. Begitupun, perlunya memperoleh pendidikan dan informasi akurat adalah universal baik bagi gadis kecil, wanita muda, anak laki-laki, para pemuda yang akan menjadi partner seksual, dan suami.
Tabel 3 : Terlepas dari aktivitas seksual atau status melahirkan anak semua wanita muda memerlukan layanan kesehatan reproduksi.
Aktivitas Seksual dan status melahirkan anak Pelayanan yang diperlukan pada masa tahun-tahun remaja
Pendidikan seksualitas Pelayanan kontrasepsi Pengobatan dan skrining PMS Prawatan pranatal Pelayanan kelahiran Program untuk para pelajar dan ibu-ibu yang hamil
Tidak aktif seksual X




Seks pertama sebelum nikah X X X


Seks pertama didalam perkawinan X X X


Hamil atau menjadi ibu X X X X X X


Tabel 4: Pola perkawinan dan perilaku seksual di kalangan para wanita muda berlainnan di wilayah-wilayah dunia yang berbeda.
% Wanita sebelum usia 20 Afrika Sub-Sahara Asia, Afrika Utara, Timur Tenga Amerika Latin Karibia Lima Negara Maju*
Tidak aktif seksual 17 52 44 23
Sudah melakukan seks pertama 83 56 77
sebelum menikah 38 28 67
didalam perkawinan 45 48 28 10
Sudah punya satu anak 55 32 34 17
*Perancis, Jerman, Inggris, Polandia dan Amerika Serikat. †Perbandingan informasi nasional mengenai aktivitas seksual di kalangan para wanita belum nikah untuk negara-negara dan wilayah-wilayah ini, tidak diperoleh.
Anak-anak kecil dan para remaja sering belajar tentang soal-soal seks dari teman sebayanya, saudara kandungnya, para orang tua dan media, namun informasi yang mereka peroleh melalui saluran ini terbatas dan mungkin banyak salahnya. Petunjuk formal yang disesuaikan dengan umur dan latar belakang pemuda yang bersangkutan merupakan sumber informasi akurat yang penting mengenai hubungan seks, kehamilan, melahirkan anak, kontrasepsi dan pencegahan PMS. Penyeragaman kurikulum umum di negara-negara maju di mana masa sekolah cukup lama, namun kurang digunakan di negara-negara berkembang, dan pada umumnya tidak dilaksanakan secara nasional; lagipula oleh karena pada umumnya singkatnya masa sekolah di banyak negara, dan tingginya angka putus sekolah di antara para remaja yang kurang mampu ekonominya, maka program pendidikan masyarakat merupakan tambahan yang diperlukan.
Program pendidikan seksual komprehensif tidak hanya mencakup fakta-fakta biologi tapi juga menyuguhkan informasi dan ketrampilan praktis kepada para pemuda mengenai soal berkencan, hubungan seks, dan penggunaan kontrasepsi. Meskipun program-program tersebut sering menghadapi oposisi agama atau politik, kebanyakan studi menunjukkan bahwa program-program itu tidak mendorong aktivitas seksual; sebaliknya program-program itu dihubungkan dengan penundaan hubungan seks pertama, dan di kalangan para pemuda yang aktif seksual, dengan cara menggunakan kontrasepsi.
Pemerintah-pemerintah bersama dengan lembaga-lembaga terkait dan bahkan media memainkan peran penting dalam memperbaiki kemampuan para wanita untuk melindungi diri terhadap kehamilan yang tidak diinginkan dan PMS. Usaha-usaha khusus diperlukan untuk mendidik dan mendorong kaum pria untuk bekerja sama dengan partner seksualnya dalam menggunakan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan kondom untuk mencegah menyebarnya penyakit. Menyediakan jasa-jasa untuk mendiagnosa dan mengobati PMS, serta informasi tentang risiko infeksi, juga sangat penting. Para wanita remaja perlu memperoleh serangkaian jasa kontrasepsi yang sesuai dengan keadaan mereka, termasuk status perkawinan, jumlah partner dan tujuan-tujuan kesuburan.
Sebagian perempuan muda yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan akan mengusahakan pengguguran baik terlarang atau tidak. Di negara-negara di mana pengguguran kandungan memang terlarang, pelayanan itu secara finansial dan georafis harus terjangkau oleh golongan muda. Di mana pengguguran terlarang, banyak wanita akan mengusahakan pengguguran gelap; para wanita harus memperoleh perawatan yang memadai jika mereka menderita komplikasi dari prosedur pengguguran dan pasca-aborsi, termasuk pula bimbingan kontrasepsi dalam menolong para wanita untuk mengelakkan kehamilan berikutnya yang tidak diinginkan.
Di banyak negara berkembang pelayanan bagi para wanita hamil dan wanita yang mengasuh anak pada tingkat usia berapapun tidak memadai. Namun para remaja khususnya perlu diberitahu tentang perlunya perawatan pra-natal dan pelayanan-pelayanan tersebut harus bisa mereka peroleh. Pada waktu hamil dan setelah melahirkan mereka juga memerlukan dukungan sosial, mereka memerlukan dukungan dan perawatan kesehatan baik untuk mereka sendiri, maupun untuk anak-anak mereka. Para ibu remaja mungkin memerlukan bantuan mengenai cara menyusui, nasehat tentang gizi dan imunisasi. Banyak yang memerlukan bimbingan kontrasepsi dan pelayanan-pelayanan untuk membantu mereka menunda kehamilan berikutnya.
Kerahasiaan merupakan aspek penting dari pelayanan tersebut bagi para remaja yang mungkin merasa kurang enak membahas soal-soal seksual atau mungkin takut dikutuk oleh para keluarga mereka atau masyarakat jika mereka mengungkapkan aktifitas seksualnya. Perawatan yang disediakan terutama bagi para remaja haruslah memperhitungkan pula terbatasnya transportasi dan tipisnya sumber keuangan mereka. Mudah atau tidaknya layanan itu diperoleh oleh para wanita muda akan menentukan sampai dimana para remaja berusaha mendapatkan perawatan kesehatan reproduksi.
Masa depan amat tergantung pada kesejahteraan para wanita remaja - sampai dimana mereka memenuhi peranan mereka sebagai ibu, sebagai penyumbang ekonomi, sebagai guru bagi generasi mendatang dan sumber kekuatan bagi masyarakat serta bangsanya. Sementara mereka berjuang mendapatkan tempat yang pantas dan syah di dunia, para wanita dihadapkan pada perjuangan dan tantangan. Namun tantangan yang dihadapi oleh masyarakat dan negara-negara untuk memberikan uluran tangan yang mereka perlukan dan patut mereka peroleh - malah lebih besar.
Laporan lengkap Into A New World: Young Women's Sexual and Reproductive Lives tersedia pada The Alan Guttmacher Institute dengan harga $30 di negara-negara berkembang dan $10 dolar di negara-negara maju (ditambah $3 ongkos kirim). Semua pesanan dibayar dimuka, dan pembelian dalam jumlah besar dapat potongan harga. Pesanan dengan menggunakan MasterCard atau Visa Credit Card harap telepon 1-212-248-1111. fax 1-212-248-1952 atau pesan dari Web Site kami: www.agi-usa.org.
Ringkasan ini dipersiapkan dengan bantuan The William H Gates Foundation.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar